Seminar Bisnis BeaSalman-1

bismillah. pagi yang damai di Geger Kalong Girang, setelah malam sebelumnya mendengar kajian Aa Gym (secara masjid DT pas banget depan kosan 😀 ) tentang topik yang sedang hangat, yaitu PEMILU 2014. Aa Gym berpesan bahwa pilihlah pemimpin yang tidak hanya mengajak kebaikan di dunia tetapi di akhirat juga.
Anyway, itu hanya iklan.

topik sebenarnya yang akan aku bahas kali ini adalah tentang catatan kecilku sewaktu mengikuti Seminar Kewirausahaan di ITB pada tanggal 22-6-2013 #lateposting

sedikit resume dari seminar itu adalah, bahwa perusahaan wajib memiliki Laba Operasional yang fungsinya dipakai untuk perputaran, dalam hal ini aku mengambil contoh dari suatu usaha Comanditer yang berusaha tidak mengambil uang dari hasil bunga bank atau laba tersebut selalu meminjam dari bank, sehingga jika digambarkan perusahaan tersebut memiliki 3 simpanan yaitu modal pribadi yang gunanya untuk berjaga-jaga, lainnya lagi untuk gaji karyawan dan satunya adalah modal yang dipakai untuk perputaran barang.
mungkin untuk awal-awal kita membuka usaha hal seperti ini agak sulit, tetapi saranku cobalah sebisa mungkin jangan HUTANG pada pihak manapun dalam melakukan usaha, jika ada keuntungan walaupun sedikit biasakan menabung yang nantinya untuk berinvestasi kembali. ingat! pola pikir orang miskin adalah selalu mengejar kenikmatan begitu mendapatkan uang banyak, sementara pola pikir si kaya adalah menunda kenikmatan untuk masa depan nanti.

Selanjutnya dijelaskan bahwa bisnis adalah pola pikir dan mental.
kalo yang ini aku juga sedang berusaha membangunnya, tidak gampang dan membutuhkan kemauan kuat. kira-kira begini penjelasanya:
Menurut pola pikir si miskin, pengeluaran harus bisa mengikuti seberapa besar pendapatan mereka. Sama sekali tidak ada usaha untuk berkembang.
Berbeda dengan si kaya yang berusaha untuk memperbesar pendapatannya agar bisa menyesuaikan dengan pengeluaran. Mereka juga cenderung fokus kepada passive dan massive income, daripada fokus ke lifestyle.
Bedanya pola pikir si miskin dan si kaya dalam kongkalikong dengan uang adalah cara seberapa kuat kerjasama mereka dengan uang. Begitu mendapat uang tambahan, sebagian banyak orang memakainya untuk membeli berbagai kebutuhan konsumtif. Inilah yang di pikirkan si miskin.
Berbeda dengan si kaya yang tidak langsung menggunakan uangnya untuk keperluan seperti itu. Mereka cenderung menggunakan uang ini untuk diinvestasikan kembali. Orang kaya membeli sesuatu dengan pasif income, sementara orang miskin membeli dengan aktif income. Orang kaya mengumpulkan banyak aset, berbeda dengan orang miskin yang mengumpulkan liabilitas.
Alhamdulillah sejak tahun lalu aku berusaha menginvestasikan sebagian pendapatanku pada sesuatu yang lain.

Next! tentang Brand. Kalo kata majalah marketeers mah, Brand tanpa Kualitas itu omong kosong!! (dan saya sepakat, hahaha).
sebenarnya apa itu brand? brand adalah nama, istilah, desain, simbol, atau kombinasi dari berbagai hal tersebut yang mengidentifikasikan dan membedakan sebuah produk atau pelayanan dengan pesaingnya.
Nah, di era serba transparan ini, meminjam bahasa politisi, bukan saatnya membangun PENCITRAAN. Lebih penting dari pencitraan adalah membangun karakter. Saatnya membangun karakter (character building) dan bukan lagi membangun merek (brand building) mengingat brand without character is nothing.

Karakter yang dimaksud adalah the true self dan brand sendiri lebih mengacu pada bungkusnya. Selama karakternya konsisten, bungkusnya bisa berubah dan konsumen tetap mengenalnya. Contoh paling gamblang adalah Google. Tampilan Google senantiasa berubah-ubah, tapi itu tetap mencerminkan bahwa itu Google.

Selain itu, karakter yang dimaksud tidak lepas dari konsep Marketing 3.0—pemasaran berbasis nilai dan human spirit—seperti mengusung kejujuran, tidak merugikan, mencintai pelanggan, menghormati pesaing, dan sebagainya. Di era viral marketing ini, sekali konsumen merasa dibohongi oleh sebuah merek, merek itu bisa rusak ibarat gara-gara nila setitik rusak susu sebelangga. Konsumen sekarang cenderung lebih memilih merek yang mengerti apa yang menjadi kebutuhannya. Lebih dalam dari itu, apa yang menjadi kegelisahan dan harapan mereka.

Konsumen memilih produk yang menambah nilai dalam hidupnya, entah itu kesehatan, jawaban atas problem hidup, dan sebagainya. Termasuk merek yang menghormati mereka karena mereka konsumen. Mereka mencari merek yang bisa dipercaya. Demikian juga rakyat pada pemimpinnya. Ingat, Google mencatat semua kebohongan yang kita perbuat. Konsumen memilih produk yang berkarakter. Karakter inilah yang membuat sebuah merek dan produk bisa berkelanjutan (sustainable). Tanpa karakter, merek hanyalah omong kosong.
Yap, di era New Wave Marketing seperti sekarang ini, brand is character! 😀

Sebenarnya masih ada materi yang belum saya sampaikan disini, tetapi karena terlalu panjang di lain waktu akan saya bahas 😉
Syukron udah mampir ke blog yg sederhana ini ^_^
semoga ente selalu sukses aamiin…

referensi: http://pakarinvestasi.com
http://demikembar.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s