A Dizzy Heart

Saat ini di usia 20 tahun ini, aku benar-benar menyadari bahwa hidup di dunia itu memang harus berjuang ‘sendiri’.
Faktanya memang begitu…beberapa waktu lamanya aku selalu berharap orang yang selama ini ‘dekat’ denganku bisa memberikan nasihat ketika aku sedang kebingungan, tetapi nyatanya tidak. Mereka memang hebat dalam politik dan adu argumen, tetapi aku merasa itu hanya kejemuan yang didapat. Karena jika aku bukan termasuk orang-orang yang ‘paham’ dengan apa yang mereka jalankan maka akan ditinggalkan.
Untuk halaqoh yang aku selalu berharap bisa menemukan ketenangan karena orang-orang hebat yang hafalan qur’annya selangit, yang sudah melakukan aksi ke banyak tempat, tetapi ini malah membuatku muak dan tekanan batin.
Mereka selalu melihat dari luarnya saja, tidak menghargai apa yang menjadi hobiku saat ini, tetapi dalam keadaan tertentu mereka mengharapkan sesuatu yang menguntungkan dari jerih payahku! Cih…!
Sangat susah menemukan orang yang bisa mengerti kita karena memang yang mengerti kita Cuma ALLAH.. dan akhirnya aku sangat sedih dan menyesali apa yang sudah kulakukan di masa lampau. Dimana aku yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik padanya tetapi pada kenyataanya sekarang aku melihat kenyataan bahwa aku tidak dianggap..
Pahit memang..aku jadi susah..sangat susah percaya dengan orang..bingung dan sangat hati-hati memilih teman..
Apakah hidup di dunia hanya untuk berpolitik tanpa mengkaji dari sisi agama? Jika bukan, mengapa materi dalam halaqoh itu selalu tentang pergerakan?
Jika bukan, kenapa aku melihat kader-kader tampak selalu membanggakan diri dan jauh dari sifat zuhud? Bersenang-senang dalam ikhtilath tanpa mahrom yang menemani??? Na’udzubillah..!
Ujian kesepian dan kesendirian ini selalu ada, untuk menguji seberapa dekat manusia dengan-Nya. Dengan hanya mengharapkan jawaban dariNya
Dan ketika aku mulai membaca-baca ilmu agama sedikit lebih dalam, aku menemukan banyak kejanggalan disini. Dari hidupku di tempat itu, sampai sekarang…

Mulai dari Tabarruj…
Selama ini aku mengira bahwa berdandan dalam acara tertentu dibolehkan..asalkan masih dalam batas wajar, tetapi sepertinya aku melihat bahwa saling memakai baju bagus dan berdandan “wah” seperti makin ditonjolkan dalam acara-acara yang ada, sehingga aku berpikir dimana sisi “kesederhanaan” yang pernah dijunjung di pesantren? Di sebelah dimana sisi menjaga “maru’ah” seorang perempuan dijaga?
“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].
Arti Tabarruj Dan Penjabarannya
Secara bahasa tabarruj berarti menampakkan perhiasan bagi orang-orang asing (yang bukan mahram).

Imam asy-Syaukani berkata: “at-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang ini dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki”
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “Arti ayat ini: Janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini dalam rangka mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya”
“Aku tidak tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain (fitnah) wanita.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Menuntut ilmu ke luar negeri selain negeri Islam.
Aku selalu merasa bangga jika bisa keluar negeri, apalagi negeri-negeri yang memang “keren” dari segala hal, baik fisik maupun nonfisiknya. Aku selalu bilang pada Ibu bahwa suatu hari aku ingin menjelajahi Eropa.
Tetapi Ibu malah bertanya padaku, “ Apa Imanmu sudah cukup kuat untuk tinggal di negeri kafir?” aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Lalu aku berpikir.. apa sih? Memangnya segitu ribetnya padahal kita Cuma mau senang-senang dan mendapat pengalaman??
Kemudian aku mulai mencari syarat-syarat seorang Muslim yang diizinkan untuk pergi ke negeri kafir..
bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali telah memenuhi tiga syarat :

Pertama : Hendaknya Seseorang Memiliki Cukup Ilmu Yang Bisa Memelihara Dirinya Dari Syubhat.

Kedua : Hendaknya Memiliki Agama Yang Kuat Untuk Menjaga Agar Tidak Terjatuh Dalam Syahwat.

Ketiga : Hendaknya Ia Benar-Benar Berkepentingan Untuk Bepergian.
Bagi yang belum bisa menyempurnakan syarat-syarat di atas tidak diperbolehkan pergi ke negeri kafir, karena hal itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah yang besar dan menyia-nyiakan harta saja. Sebab orang yang mengadakan bepergian biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Jika ada suatu keperluan seperti berobat, mempelajari ilmu yang tidak ditemukan di negeri asal, maka hal itu diperbolehkan dengan catatan memenuhi syarat yang saya sebutkan di atas. Adapun masalah rekreasi ke negeri kafir, bukanlah suatu kebutuhan, karena ia bisa saja pergi ke negeri Islam yang menjaga syari’at Islam.
Adapun masalah menetap atau tinggal di negeri kafir sangatlah membahayakan agama, akhlaq dan moral seseorang. Kita telah menyaksikan banyak orang yang tinggal di negeri kafir terpengaruh dan menjadi rusak, mereka kembali dalam keadaan tidak seperti dulu sebelum berangkat ke negeri kafir.
Bagi Yang Ingin Menetap Di Negeri Tersebut (Kafir), Ada Dua Syarat Utama :

Pertama : Merasa Aman Dengan Agamanya.
Maksudnya, hendaknya ia memiliki ilmu, iman dan kemauan kuat yang membuatnya tetap teguh dengan agamanya, takut menyimpang dan waspada dari kesesatan. Ia harus menyimpan rasa permusuhan dan kebencian terhadap orang-orang kafir serta tidak sekali-kali setia dan mencintai mereka, karena setia dan mengikat cinta dengan mereka bertentangan dengan iman. Firman Allah.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Artinya : Kamu tidak mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau keluarga mereka” [Al-Mujadilah : 22]

Firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu, termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim, maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasharani) seraya berkata :’Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasulNya) atau suatu keputusan dari sisiNya, maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”
Begitulah kawan..sekarang aku mulai mengerti jika kita sudah berada di akhir zaman..menjaga kehormatan kita lebih penting dari itu semua..hal-hal yang mendatangkan banyak mudharat..karena Surga tidak ada tandingannya dengan keindahan dunia dari sisi manapun. Demi Allah.

Berbangga-bangga dengan golongan..
You know what i mean here…yang Rasulullah ajak ketika itu adalah Quran dan Sunnah. Menyeru 100% pada Quran dan Sunnah. Tetapi sekarang….?
Bahkan merasa ekslusif dengan golongannya…
Sedikit pun aku tidak merasa dengki dengan golongan itu, yang membuat aku dengki adalah ibadahnya yang luar biasa, itu saja.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan wahyu kepadaku supaya engkau semua itu bersikap
merendahkan diri, sehingga tidak seorangpun yang melanggar aturan terhadap diri orang lain, dan tidak pula seseorang itu membanggakan dirinya kepada orang lain.” (Riwayat Muslim)
Ahli lughah berkata: Albaghyu ialah melanggar aturan serta berlagak sombong.
1587. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
Jikalau ada seseorang berkata: “Para manusia sudah rusak binasa,” maka orang itu sendirilah yang paling rusak di antara mereka,” (Riwayat Muslim)
Riwayat yang masyhur berbunyi: Ahlakuhum dengan rafa’nya kaf – sebagaimana di atas itu dan ada yang meriwayatkan dengan nasabnya kaf – lalu berbunyi Ahlakahum artinya ia sendirilah yang merusakkan mereka.
Larangan semacam di atas itu adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian tadi dengan tujuan keheranan pada diri sendiri – sebab dirinya sendiri yang tidak rusak – juga dengan maksud menganggap kecil semua manusia dan merasa dirinya lebih tinggi di atas mereka. Yang sedemikian ini yang diharamkan.

Tanggapan tentang Fiqh
Sejauh ini, sampai sekarang..aku selalu diajarkan untuk berpikir bahwa harus selalu toleransi dalam masalah Fiqh. Tetapi disini aku menemukan kejanggalan karena terlalu banyak toleransi.. jangan kau menganggap remeh walaupun Fiqh berbeda-beda. Karena Fqih juga termasuk ibadah.. orang syi’ah juga wudlunya berbeda karena mereka mengusap kaki, orang-orang muslim India kebanyakan tidak memakai kaus kaki jika shalat untuk perempuannya..aku ngga ngerti toleransinya yang seperti apa yang dimaksud?
jika perbedaan itu indah, maka persatuan itu apa??
Anda mungkin tidak setuju dengan tulisan saya ini, tetapi pernahkah berpikir bahwa anda sudah mencoba berdakwah tentang hal krusial semacam ini pada kami??

Menurutmu jika kita mengaku ummat Rasulullah maka kita harus lebih patuh pada ucapannya atau pada karya-karya kontemporer?
Bukan aku merendahkan, tetapi kenapa dalam perkumpulan-perkumpulan halaqoh tidak pernah membahas tentang sahabat dan tabi’in yang sudah terjamin keshahihannya?
Selama ini aku selalu dicekoki dengan namanya Hasan Al-Banna, Yusuf Qardhawi, Sayd Quthb..tetapi tidak pernah dari Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahkan Ibnu Abbas yang sudah direkomendasikan Rasulullah untuk belajar agama..

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”
Begitulah sedikit luapan hati yang ingin aku sampaikan kali ini.. aku sadar kau memang lebih pintar dariku dalam segala kawan, maka adakah kau peduli dengan orang-orang yang kebingungan dalam mencari jalannya yang lurus..?

Kota Kembang, 12 Januari 2014.

referensi hadits:
almanhaj.or.id
muslim.or.id
http://assunnah.arabblogs.com/maknasunnah.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s