Kisah Papatong dan Ulat Keket

Sukasari-20130612-01269

Ch 1
Hari ini aku melihat papatong di sawah sedang mencari makan dedaunan kecil nan hijau. Tetapi dia terhenti oleh sekumpulan ulat keket yang menawan dan berwarna hijau segar..nyeemm..hampir saja dia mengira itu daun..untunglah ulat keket itu segera memanggil teman”nya. Dan skrg tinggalah papatong sendiri dikerubungi ribuan ulat keket

Ch 2
Lanjutan folklore ..
Papatong pun kebingungan krna dia hanya sendiri di tengah ribuan ulat keket yg merayap” pelan mendekatinya. Wow..ulat” ini lucu dan menawan..katanya dlm hati takjub. Matanya yg besar semakin menonjol keluar hampir copot melihat pemandangan sekitar. Wkwkwkk
Dia mencoba tenang dan menyapa mreka: hai..kalian lucu sekali. Lalu ulat keket menjawab: trus gue harus manjat sambil bilang “puucuk..puucuk” gitu? Papatong menjadi bete dan berkata..

Chapter 3: papatong menjadi bete dan berkata, huh aku pulang saja. Ulat keket melihatnya tanpa reaksi. Ya. Ulat keket memang sdg malas berbicara dan bergerak..lagipula ngga akan terkejar..dia terbang aku merayap”..pikirnya. Dan ulat keket pun hanya bisa melihat kepergian papatong dengan tatapan kosong.

Ch.4.
Ulat keket masih memandang papatong yg terbang di langit…lama kelamaan seperti titik dan tak terlihat di angkasa.
Menerawang jauh..
Kapan ya aku bisa terbang seperti papatong..?
Kapan aku bermetamorfosis menjadi dewasa? Teman”ku yg lain tlah berubah mnjadi kupu” yg cantik..wajahnya berubah sendu.

Tapi tak lama kemudian ulat keket ceria lagi krna menemukan mainan kesukaannya, ranting pohon toge. (?)

Sementara itu di kediaman papatong..
Tubekontinyu..xD
Ch.5
Menyenangkan hari ini, aku dapat dedaunan hijau yang segar dan bertemu sekumpulan ulat keket yang lucu, tetapi jutek sekali ulat tadi.huh..keluhnya.
Kemudian papatong mulai menulis di buku diarynya yang terbuat dari pelepah kayu..tentu saja dari kayu. Karena jika dari daun maka buku tersebut akan dilahapnya juga hahaha..
Besok aku akan pergi ke kebun itu lagi karena dedaunan disana sangat enak. Tapi semoga tidak bertemu ulat keket lagi..hihi..
Sebelum beranjak tidur papatong menoleh keluar jendela kamarnya, paman burung hantu, tolong bangunkan aku pukul 3 dengan suara merdumu itu lagi ya..hihi..
Oke siap anak baik, kata paman burung hantu ramah.
Setelah berdoa papatong pun tidur dengan ditemani bantal rotan kesayangannya.

Ch6
Flash Back waktunya sedikit..Di kebun tadi..
Sudah cukup hari ini, aku harus pulang..gumam ulat keket. Toge tadi pun ia biarkan disitu karena besok pasti akan ada yang baru lagi.
Hm..semoga besok aku bertemu papatong itu lagi. Aku akan mengajaknya berteman ah..katanya.
Papatong tadi sebenarnya cantik, #hoek.. memiliki sayap yang berwarna keemasan jika terpantul sinar matahari. Badannya pun lebih tinggi dari si keket, matanya pun berwarna hijau muda dan cerah.

Perjalanan ke rumah ulat keket sebenarnya hanya membutuhkan waktu 15 menit, tetapi karena ulat keket lamban maka dia baru sampai rumah setelah setengah jam berlalu.
Di jalan ia melihat beberapa kupu-kupu beterbangan di langit senja sore.
Aku ingin jadi kupu-kupu..gumamnya. tapi apakah aku siap melewati proses metamorfosis? Dimana aku harus berpuasa penuh selama 16 hari dan tidak bertemu dengan keluarga dan teman-temanku di dalam kepompong itu. Ada apa dalam kepompong itu? Aku harus melakukan apa?
Sendiri..sendiri ku diam..diam dan merenung..#ngok -,-

Wah sampai juga akhirnya, kata ulat keket senang kemudian masuk ke rumah jeraminya.

Ch7
Pagi yang sejuk, sebelum matahari beranjak dari peraduannya ulat keket telah bangun..setelah mandi dan berdoa, ia pergi ke kebun itu lagi. Ia pergi ke kebun menaiki daun yang mengalir di sungai..ah bisa lebih cepat nih, hahaha.. katanya ceria.
Huh, masih lebih cepat diriku dong..! sebuah suara mengagetkannya.

Papatong! Seru ulat keket. Hei tunggu, kamu mau pergi ke kebun itu lagi kan?
Iya, tapi aku nggak mau bareng kamu..kamu lamban sih..#jleb.
Tunggu2! Aku ingin berteman denganmu. Kata ulat keket jujur.

Papatong menoleh dan berhenti..

Ch8
Kemudian papatong landing dengan perlahan menuju perahu daun yang dinaiki ulat keket (gakgakgakk..landing??)
Boleh kan 🙂 kata ulat keket mengulurkan tangannya.
Papatong menjabat tangannya sambil tersenyum ramah 🙂

Maaf ya kemarin aku jutek..soalnya lagi makan enak..hahaha. kata ulat keket.
Pantesan kamu gendut..haha. kata papatong becanda.
Masa sih tapi sepertinya dirimu lebih gendut ah..coba beratmu berapa?
Berat massa ku ‘hanya’ 7mg..kamu? jawab papatong
Sama dong! Hahaha :p timpal keket.
Mereka berdua tertawa.

Matahari mulai muncul ketika mereka sampai di kebun itu. Seperti biasa di kebun itu banyak hewan-hewan kecil seperti mereka, mulai dari lebah, nyamuk, cengcorang, coro yang bau, dll.
Nyem..nyem..mereka makan dengan sangat lahap. Mereka sengaja makan di tepi sungai agar dekat dengan air.
Lalu sebuah suara menyapa si keket, hei bocah! Apa kabar? Ternyata mereka sekumpulan kupu-kupu dewasa yang dulunya adalah teman-teman si keket.
Hai..ulat keket balas menyapa
Hahaha..kau masih saja jadi ulat keket? Sampai kapan? Mereka menertawakan si keket.
Ulat keket hanya diam.
Mungkin kau harus ganti kulit 10 kali dahulu sebelum bisa menjadi kupu2 cantik seperti kami.hahahaa..
Ulat keket tidak membalasnya, kemudian mereka pergi.
Jahat sekali mereka..gumam papatong dalam hati. Ia tau, masa transisi ganti kulit ulat sebelum menjadi kupu-kupu adalah 5x.
Sudah jangan dipikirkan..kata papatong berusaha menghibur.
Tidak..udah biasa kok. Kata si keket.
Kita pergi ke bukit sebelah sana yuk, ada tumbuhan jenis baru loh! Kata ulat keket ceria lagi.

Ayo 🙂 kata papatong.
Tapi, papatong harus bersabar menunggu ulat keket berjalan. Karena untuk sampai atas bukit tidak ada sungai yang mengalir jadilah ulat keket berjalan dan papatong terbang pelan sambil menunggunya…

Ch.9
Di tengah perjalanan papatong sedikit kelelahan..terbang sangat lambat membuatnya mengeluarkan banyak tenaga dari biasanya..
Ulat keket menjadi tidak enak kemudian terdiam.
Ada apa? Tanya papatong.
Kamu pergi saja ke bukit ya. Tumbuhan itu ada di samping pohon jengkol. Aku disini saja. Kata ulat keket
Aku tidak apa2 kok. Kalau boleh tau, kamu sudah berganti kulit berapa kali?
5kali. Sudah 1 bulan yang lalu. Teman-temanku tidak selama itu, mungkin hanya 2minggu mereka sudah menjadi kepompong. Kata ulat keket sedih.
Oh begitu..sudah sabar saja. Pasti ada rencana Allah yang lebih baik buatmu . Kata papatong bijak (?)
Benar kata temanmu, ulat kecil. Sebuah suara menyahut.
Paman kumbang ninja! Apa kabar? 😀 Papatong menyapa ceria.
Temanmu ya? Kata keket. Iya 🙂
Hei nak keket, tidak usah bersedih dan iri jika kau belum menjadi kupu2. Suatu saat kau akan menjadi kupu2 yang lebih indah dari yang lain. Percaya dan cerialah, nak! 😀
Ulat keket terharu dan tersenyum.
Ayo keket, naiklah ke punggungku, akan ku antar kau dan papatong menuju puncak bukit itu. Kata paman kumbang ninja.
Eh? Kata keket..dan tak bisa menolak ketika paman kumbang yang besar itu mengangkat tubuhnya ke punggungnya.
Papatong hanya tertawa.
Nah, ayo jalan! Kata paman kumbang. Mereka terbang melewati kebun bungan yang luas nan indah.
Bagus sekali..luar biasa! Kata keket takjub.
Terbang itu menyenangkan sekali yaa 😀
Papatong dan paman kumbang ninja tertawa dan senang karena ulat keket tidak sedih lagi.
Akhirnya sampailah mereka di atas bukit dan menemukan tumbuhan yang mereka cari. Mereka tertawa-tawa sambil bersenda gurau. Setelah makan mereka bermain petak umpet bersama dan tidur menatap luasnya langit dibawah pohon yang rindang. Saling menunjuk dan berimajinasi dengan awan di langit yang cerah.
Bayangin2…so sweet ngga? Hahaha.. XD

Tanpa terasa bayangan mereka sudah terlihat tak lagi sama itu tandanya hari sudah semakin sore dan mereka harus pulang. Paman kumbang nin ja dengan senang hati menggendong ulat keket lagi sampai bawah.

Ch. 10

Terima kasih ya hari ini aku senang sekali 😀 kata ulat keket.
Iya aku juga senang 😀 kata papatong.
Besok main lagi ya, aku tunggu di aliran sungai tadi pagi, kata ulat keket.
Iya, selamat beristirahat keket 🙂 kata papatong kemudian mengambil ancang2 untuk take off sehingga dedaunan di sekitar rumah ulat keket beterbangan sampai” cacing tanah muncul keluar. Hahah lebay gila XD

Begitulah..dua makhluk kecil itu memulai….dan petualangan mereka karena setiap hari mereka menemukan hal baru. Mereka tulus berteman walaupun mempunyai banyak perbedaan. Papatong tidak malu berteman dengan ulat keket, begitu pula ulat keket walaupun jarang bersama segerombolan ulat keket lainnya tapi ia tetap senang. Teman-teman papatong dan keket pun tidak mempermasalahkannya, toh sekarang malah banyak hewan-hewan yang menjalin pertemanan dengan hewan lain. Sehingga suasana di kebun itu pun menjadi seperti keluarga.

Sudah berminggu-minggu mereka bersama, pulang pergi mencari makan, bermain, melukis impian masing” di awan yang bergumpal.. belajar bersama bibi tikus tanah, mendengar cerita paman burung hantu dan sebagainya… sampai suatu hari, di tanggal 10 bulan Juni..

Ch.11
Pukul 06 pagi, seperti biasa papatong sudah siap berpetualang bersama ulat keket. Tetapi tumben sekali pagi ini keket belum muncul.. aku susul ke rumahnya saja deh, kata Papatong.
Rumah mereka berjarak sekitar 20m dan papatong hanya memerlukan waktu 3 menit untuk sampai rumah ulat keket.
Assalamualaikum.. kekeet..kau sudah siap? Kata Papatong sambil mengetuk bel rumah keket yang berbentuk kepik.
Terdengar suara keket pelan dari dalam, papatong jadi penasaran.
Aku masuk ya..kata Papatong.
Oh..betapa kagetnya Papatong melihat temannya itu berselimut sambil menggigil dan berkeringat.
Hai Papatong 😀 kata keket pelan..
Maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa pergi..sepertinya aku kurang sehat,

Kenapa kamu bisa tiba” sakit, keket? Apakah karena kita pulang terlalu sore kemarin? Tanya Papatong cemas.
Bukan.. sepertinya waktunya sudah tiba Papatong..
Waktunya?
Sepertinya ini adalah masa transisi sebelum aku menjadi kepompong..
Papatong terpana mendengar jawaban keket.
Sungguh? Benarkah keket? Aku senang sekali 😀 Nanti kita bisa terbang bersama seperti yang kau inginkan! Kata Papatong ceria.
Ulat keket tersenyum.. iya 🙂 kita akan terbang bersama..
Ah, tetapi aku akan kesepian karena selama kau bermetamorfosis aku sendirian berpetualang..kata Papatong tiba” mukanya menjadi sendu.
Hehe..lebay kau ini. Kan masih banyak saudara dan teman” kita di kebun itu. Kata ulat keket menyembunyikan perasa.an senangnya (-_-“)
Bukan, masalahnya tidak ada yang sekonyol dirimu, HAHAHA..
Papatong tertawa.
Ulat keket pura” cemberut kemudian tertawa..

Sudah sana pergi, tuh perutmu udah berbunyi seperti suara tonggeret, kata keket.
Ahaha..jadi kepengen malu, kata Papatong.
Iya nih..duh sudah lapar, aku pergi dulu ya keket! Nanti sore aku kesini lagi dan membawakan daun kesukaanmu, kata Papatong sambil keluar.
Hati” ya..kata keket.
Dan tinggalah keket di rumahnya sendiri sambil menahan sakit…

Di kebun seperti biasa..
Papatong sedang asyik makan daun kol dengan lahapnya. Ditemani capung-capung lain dan di sebelah sana tampak paman kumbang ninja sedang bersantai di atas bunga matahari.
Hei Tonx, tumben tidak bersama keket..kemana dia? Tanya salah satu capung.
Dia sedang kurang sehat..jawab Papatong. Kemudian bercerita bahwa itu pertanda keket akan bermetamorfosis.
Sampaikan salamku padanya ya, semoga kata capung-capung lain dan paman kumbang ninja.
Iya kata papatong dengan senang hati.

3 hari kemudian..tanggal 13 Juni
Papatong ditemani ulat kecil yang tetangga keket menjenguk si keket sambil membawa dedaunan kesukaannya.
Kekeet..kau sudah baikan? Ini daun kesukaanmu! Kata Papatong.
Terimakasih ya kalian datang menjengukku 🙂 kata ulat keket terharu.
Mereka mengobrol cukup lama sambil diselingi canda tawa.
Keket, kau harus berjuang untuk melewati masa metamorfosis itu, dan doakan aku juga agar cepat menjadi kupu-kupu, hehehe.. kata ulat kecil.

Hari sudah semakin sore ketika ulat kecil tadi sudah pamit pulang, sementara Papatong masih ingin menemani ulat keket #adeeuu.. XD
Sudah sore, pulang dan istirahatlah..kata keket
Hm..jadi kau mengusirku ya? Kata Papatong.
Bukan begitu gendut..
Enak saja, kau sendiri lelet, kata Papatong sebal.
Hehehe..keket tertawa jail

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
Tiba” ulat keket turun dari tempat tidurnya. Ia tampak merenung dan tiba” terdengar lagu cakra khan #NGACO

Sudah waktunya aku bersiap”. Kata ulat keket.
Keket menoleh pada Papatong.
Kau pasti akan kesepian selama aku jadi kepompong..hahaha. kata Keket dengan PD-nya.
Tapi yang diledek malah diam, ulat keket jadi serba salah.
Hei, doakan aku ya agar bisa jadi kupu-kupu yang sempurna dan nanti kita terbang bersama-sama 🙂 kata keket.
Iya, pasti akan kudoakan lamban..kata Papatong..wajahnya tampak sedih.
#nih tissue Fha..wkwkwk
Huh..lamban? keket cemberut.
Kau mau menjadi kepompong dimana? Tanya Papatong.
Ooh..tenang saja, aku akan menjadi kepompong di depan rumahku kok 😉
Ulat keket keluar pintu rumahnya diikuti papatong..

Emm..lalu papatong, selama aku menjadi kepompong, berjanjilah kau akan menungguku keluar dari sana sampai aku menjadi kupu-kupu. Kata ulat keket pelan.
Kau bicara apa sih keket..tentu saja aku akan menunggumu, kau juga harus berjanji untuk berjuang untuk melewati proses itu ya. Kata Papatong..yang sebenarnya menahan air matanya dari tadi.
iya 😉 saat itu pasti kita bisa terbang bersama-sama. Dan..sampai ketemu 2 minggu lagi Papatong..
mereka berdua saling tersenyum kemudian papatong pulang ke rumahnya.

Ulat keket melihat temannya pergi sampai tidak terlihat lagi sambil menahan segala perasaannya yang campur aduk itu. Bismillah.. aku pasti bisa, tekadnya.
Dan perjuangannya untuk menjadi kupu” pun dimulai..

Ch 12
Tanggal 17 Juni.

Pagi hari yang dingin, pukul 03:20. Papatong terbangun karena bunyi “alarm” paman burung hantu. Ia bangun dengan malas dan ogah-ogahan.. masih pagi, ujarnya.
Ketika “mengumpulkan nyawa” ia teringat.. ohiya.hari ini tidak ada si keket..
Papatong turun dari tempat tidurnya kemudian mencuci muka dan sikat gigi..sedang apa ya kira” keket?
Papatong berbicara sendiri di depan cermin.
Setelah berdoa papatong keluar rumah mencari udara segar.. subhanallah.sejuk sekali ^_^
Setelah pamit kepada Paman Burung Hantu, Papatong seperti biasa, pergi ke kebun yang indah itu.

Papatong mulai terbang menuju kebun dengan santai..biasanya keket selalu menunggunya di tepian sungai itu, lalu mereka akan bersama menuju kebun dengan menaiki perahu daun..atau Papatong terbang perlahan sementara keket yang di atas daun menyusuri sungai.
Papatong hinggap di atas pohon Mangga yang masih kecil. Mulai makan daun yang masih muda dan segar..nyamnyam..
Tiba-tiba..
HOOOYY!!
Papatong kaget setengah hidup sampai makanann di mulutnya muncrat.. ia menoleh,
HAHAHAAAA… teman-teman capung lainnya tertawa melihat ekspresi Papatong.
Ngga lucu deh! Kata Papatong sebal.
Jangan marah begitu dong, bercanda Tonx..kata mereka masih tertawa. Lagian dirimu pagi-pagi sudah lesu, kenapa? Karena tidak bersama si keket kah?
Tidak juga, kata Papatong stay cool (?)
Ayo bermain saja bersama kami daripada tidak semangat begitu Tonx! XD
Papatong menerima ajakan teman-temannya, lagipula sudah lama dia tidak bermain balapan terbang bersama teman-temannya.
Hmm..mungkin setelah keket jadi kupu-kupu nanti kita bisa balapan terbang! Pikir Papatong..
Dan kelesuan Papatong selama Keket tidak ada pun terobati dengan hadirnya teman-teman Capungnya.

Sementara itu, ulat keket sedang berjuang di dalam kepompong. Ulat keket yang selama ini dianggap menjijikan oleh manusia,akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik yang disukai manusia.

Sekarang Keket sudah sempurna terbungkus pra-kepompong seluruh tubuhnya. Proses itu dimulai malam hari kemarin. Lalu..perlahan-lahan mulut dan kakinya menjadi tidak berfungsi. Tapi otak dan pikirannya masih berjalan normal. Sebelum tertidur dan menjalani proses selanjutnya Ulat Keket teringat pada Papatong..
“Papatong, semoga kau baik-baik saja. Nanti kita akan bisa terbang bersama, aku janji.” Kemudian ulat keket tertidur dan membiarkan tubuhnya terbungkus kepumpung (kepompong baru).
Dan mulailah ulat keket berpuasa selama 10 hari ke depan.

Hari ke 10 keket berada dalam kepompong
Tanggal 27 Juni

Papatong sedang bermain air bersama Capung dan Paman Kumbang Ninja. Paman Kumbang memang hebat, walapun badannya besar tetapi selalu lolos terkena siraman air.
Rasakan ini..! kata Papatong.
Eit..tidak kena! Sudahlah kalian tidak akan bisa mengalahkanku. Hahaha.. paman Kumbang Ninja tertawa melihat anak-anak itu basah kuyup sementara dia sendiri kering tidak terkena air.

Ngomong-ngomong Papatong, berapa hari lagi keket kecil itu bermetamorfosis? Aku tidak sabar melihat dirinya menjadi kupu-kupu. Kata Paman Kumbang Ninja.
Kemungkinan 3 hari lagi Paman, iya sama aku juga ingin melihat dia senang karena bisa terbang. Kata Papatong

Bagaimana setelah makan siang kita melihat kepompong si keket? Aku ingin tau perkembangannya.
Papatong dan Capung lainnya setuju.

Setelah makan siang mereka menuju rumah si keket dan melihat kepompong itu masih menggantung tepat di depan rumahnya.

Hei anak-anak! Sebuah suara memanggil mereka. Bibi tikus tanah muncul dari lubang tanah dan berjalan menghampiri mereka.
Bibi, kau juga suka kesini? Tanya Papatong.
Hanya sekali, ketika membawa adik-adik ulat untuk belajar kesini 🙂
Begitukah? Papatong kaget.
Berarti keket sudah tidak kaget dengan semua ini, pikir Papatong,
Taukah Papatong.. warna kepompongnya sudah terlihat lebih tua dari sebelumnya. Mungkin karena kulitnya juga berubah menjadi tua.
Bibi Tikus Tanah melanjutkan.. “sekarang ini temanmu itu sudah kehilangan fungsi mulut dan kakinya, lalu perlahan-lahan tubuhnya mulai longgar, meluruh dan melunak.”
Papatong dan teman-temannya juga Paman Kumbang Ninja terpana mendengar penjelasan Bibi Tikus Tanah.
Lalu bagaimana lagi, Bi? Tanya Papatong penasaran.
Saat ini pasti tubuhnya sudah sempurna diselimuti oleh kepumpung. Setelah kepumpung menyatu dengan kepala maka dalam beberapa tahap lagi jadilah kupu-kupu. Kepompong akan belah secara perlahan dan keluarlah kupu-kupu yang cantik. Panjang lebar bibi Tikus Tanah menjelaskan..

Begitukah..apa kau bisa merasakan kehadiran kami keket? Sakitkah didalam sana ket? Papatong memandang kepompong lagi.
Bibi, apakah Keket bisa mendengar jika aku berbicara kepadanya? Tanya Papatong.

Hmm..mungkin saja nak. Aku tidak tau seberapa tebal kepompong ini, apakah dia kedap suara atau tidak aku tidak tau. Jawab Bibi Tikus Tanah.
Kami akan menunggumu sampai kau keluar keket, ujar Papatong. Kemudian mereka pun pulang ke rumah masing-masing

3 hari berlalu..
Papatong terus menunggu di depan rumah keket dan melihat perkembangan kepompong itu, sedikit deg-degan menunggu keket keluar dari situ.
Hari ini saatnya .. kata Papatong. Keket bagaimana nanti ya wujudnya? Hihi aku betul-betul penasaran..kata Papatong sambil cekikikan sendiri. Papatong menunggu sambil membawa buku diarynya yaitu pelepah kayu. Sambil menunggu Keket ia asyik menulis di diary kesayangannya. Tak terasa hari sudah semakin siang..
Hmm..kok keket belum keluar-keluar ya? Tanya Papatong sedikit cemas 😦
Apa yang terjadi denganmu Keket? Kenapa kau belum juga keluar?
Hari sudah mulai malam tetapi Papatong masih ingin menunggu Keket keluar dari kepompong.
Papatong masuk ke dalam rumah Keket..ia menuju kamar Keket. Melihat kacamata bulatnya di atas meja. Papatong tersenyum, Keket benar-benar tidak bisa melihat tanpa kacamata ini. Papatong lalu tersadar, bahwa selama Keket bersamanya ia jarang bersama kawanan ulat keket lainnya. Papatong juga merasa bahwa Keket, walaupun ceria tetapi seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Misalkan ketika Papatong mendapati Keket sedang sendiri, wajah Keket selalu tampak sedih, seperti memikirkan sesuatu. Selama ini Papatong enggan bertanya..
Apakah Keket memang kesepian? Tanya Papatong dalam hati.

Tanpa sadar Papatong pun tertidur di atas kasur Keket karena kelelahan.

Chapter 13.
Waktu menunjukan pukul 01:00. Tanggal 1 Juli
Papatong yang terlelap tidur, sedikit terjaga karena ada sesuatu yang berjalan mendekati dan membangunkannya.
Nyem..? perlahan Papatong membuka matanya dan..
Hah?!! Dia terlonjak bangun melihat sesosok kupu-kupu cantik di hadapannya.
Kupu-kupu berwarna biru cerah kekuning-kuningan itu tersenyum ceria kepadanya.
Ke..ket?? kamu Ulat Keket?? Kata Papatong sambil menatap tak percaya.
Iya..aku Ulat Keket Papatong. Si Keket yang lamban, yang selalu merepotkanmu, kata Kupu-Kupu itu sambil terus tersenyum haru. Terharu karena melihat Papatong sampai ketiduran di rumahnya yang berarti ia selalu menunggunya.
Terimakasih ya Papatong karena telah menungguku keluar dari kepompong itu. Sekarang aku telah menepati janjiku untuk bisa terbang bersamamu. Kata Kupu-kupu itu berkaca-kaca.

Papatong masih terdiam melihat Kupu-kupu dihadapannya.
Kenapa :)? Tanya Kupu-kupu.
Keket..apakah aku masih boleh memanggilmu Keket? Tanya Papatong
Keket, kau cantik sekali! Ujar Papatong.

Iya, tentu saja boleh XD. Aku..sekarang adalah Kupu-kupu yang dulunya adalah Ulat Keket yang lamban. Tetapi Papatong saja yang boleh memanggilku Keket sampai kapanpun XD

Papatong mengeluarkan senyum terbaiknya.
Eh..apakah kau akan tidur? Ini masih dini hari. Tanya Papatong.
Iya aku akan beristirahat di sofa depan. Dadah selamat tidur! Papatong kaget karena Keket alias Kupu-kupu langsung terpejam tidak sampai 1 menit.

Embun pagi masih basah ketika Papatong bangun dan membuka jendela kamar Keket (eh..kupu-kupu) XD
Waktu menunjukkan pukul 03:47 pagi.
Ia membangunkan Keket yang masih tertidur di sofa.
Keket, bangung sudah pagi! Ayo kita bersiap ke kebun, ini akan menjadi hari perdana kau terbang! Kata Papatong mengguncang-guncang tubuh Keket.
Keket alias Kupu-kupu segera bangun.
Setelah berdoa dan bersiap-siap, mereka keluar rumah dengan perasaan senang.

Keket, apakah kau sudah siap?? Tanya Papatong menoleh.
Ya. Aku sudah siap! Jawab Keket yakin dan berdebar-debar.
Hitungan 1 kita terbang bersama ya! Kata Papatong.
3..2….1!!!
Whuuussss….. mereka berdua take-off bersama sampai-sampai dedaunan beterbangan dan embun berjatuhan mengiringi mereka. (lebay gila..HAHAHA)
Terbang..! aku terbang sekarang!! Teriak Keket bahagia.
Terima kasih ya Allah..ujarnya menangis.
Papatong ikut senang melihat Keket bahagia.

Kupu-kupu alias keket terbang sambil menari-nari di udara, memperlihatkan kepada semua orang bahwa kini ia sudah berubah, bukanlah keket yang dulu lamban.

Hai..lihat itu! Apakah dia si Keket? Teriak salah satu kupu-kupu yang sedang bertengger di bunga Lily.
Haai teman-teman apa kabar? Aku sudah berubah menjadi Kupu-Kupu! Sapa Keket pada mereka.

Banyak binatang yang memuji kecantikan si Keket dan Papatong. Kini Keket tak perlu merasa rendah diri dan merepotkan Papatong jika mereka bersama.

Hari itu mereka mengitari taman, mengelilingi air terjun dan beristirahat di dahan pohon Oak. Ketika senja mulai turun mereka pun pulang.
“Papatong, tunggu jangan cepat-cepat” kata Keket
“Kamu yang lambat..terbangku memang seperti ini. Ternyata kau masih lambat ya Keket walaupun bisa terbang.hahaha”
Kupu-Kupu alias Keket cemberut. Memang fakta jika kecepatan terbang Papatong lebih cepat dari Kupu-kupu.

Hari-hari selanjutnya menjadi semakin menyenangkan bagi mereka. Keket benar-benar bersyukur proses yang telah dilaluinya berhasil. Keket tidak perlu lagi merepotkan Papatong untuk lama menunggunya karena dia bisa terbang sekarang.

Tetapi keadaan berbicara lain..
Suatu hari, Papatong yang sedang duduk di atas daun Mangga memperhatikan Kupu-kupu yang (selalu) makan dengan lahapnya. Merasa diperhatikan Kupu alias Keket pun menoleh.
“ada apa? Kamu tidak semangat makan? Sakit maag?” kata Keket
“engg.. Keket, bagaimana jadinya jika suatu hari aku pergi dari tempat ini dan kita berpisah?” tanya Papatong tanpa basa-basi.

Keket tercengang..

Chapter 14
“hah apa maksudmu?” tanya Keket kaget.
“Begini..kau pasti tahu jika musim panas tiba kami gerombolan Capung pasti akan berpindah ke tempat lain, mencari tempat baru yang lebih baik, menetap disana untuk beberapa waktu, dan mungkin saat itu aku pun akan menikah..dan musim panas akan tiba beberapa hari lagi, oleh sebab itu kami keluarga Capung dihimbau untuk bersiap-siap pergi meninggalkan tempat ini” kata Papatong tercekat mengucapkan kalimat terakhir. Ia sungguh sedih memberitahukan hal ini pada Keket.

“Oh..untuk berapa lama?” tanya Keket yang perasaanya sekarang sungguh campur aduk.
“Aku tidak tau..tempat yang kami tuju seberapa jauh ..”
“Yah..tidak masalah, kau pasti akan pulang lagi kesini kan? Lagipula sayang sekali jika perkampungan Capung ditinggal..hehhe” kata Keket berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“mmm.. Aku harap begitu,” kata Papatong menunduk.
“hm..Mungkin nanti saat bertemu lagi aku pun sudah menikah,” kata Keket tersenyum centil, “dan saat itu kita saling berkenalan kembali dengan keadaan yang berbeda..”

“Jika saat itu tiba, akankah kau masih mengingatku Papatong..” tanya Keket dalam hati.
“Eh Papatong, kapan lebih tepatnya kau pergi? Supaya aku bisa membantumu bersiap-siap..!” kata Keket mengubah raut wajahnya menjadi ceria.

Papatong terdiam dan menatap Keket.
“Lusa,” Jawab Papatong.
“Lusa katamu?? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?? Mana aku tau gerombolan Capung akan pindah tempat??” kata Keket kaget dan sedih.
“Aku bingung memberitahukannya padamu, nanti kau pasti sedih :p “ kata Papatong sebal.
“Begitu? Yah sudah kalo begitu besok aku ke rumahmu membantumu bersiap-siap okee..”kata Keket.
“Mmm..”kata Papatong mengangguk.

Senja mulai turun diiringi dengan rintik-rintik hujan.
“Sampai jumpa besok Keket..” kata Papatong tersenyum.
“Iya, tunggu aku besok ya..” kata Keket datar.
Mereka berpisah di tengah jalan..dan ketika Keket berbalik badan ia langsung menangis..

Keket sungguh belum siap menerima ini semua.. kejadiannya begitu cepat. Dia pun masih berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan Papatong tadi.. sayapnya basah oleh air hujan yang semakin deras..

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Keket menuju rumah Papatong. Ia tidak peduli Papatong sudah bangun atau belum. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hari ini dan esok.
Ia hanya ingin sedikit lebih lama bersama Papatong, karena mulai besok Papatong tidak ada disini lagi..

Papatong ternyata sudah bangun dan mereka sarapan bersama pagi itu. Mereka bercanda dan tertawa seperti biasa walau masing-masing menyadari raut wajah kawannya itu ada yang berbeda.

“Papatong, jujur aku sedih kamu mau pergi, tapi aku akan menunggumu disini, jangan lupakan aku ya” kata Keket menatap Papatong.
“Aku ngga akan melupakanmu, Keket yang lamban dan merepotkan 😛 HAHAHA” kata Papatong tertawa

“Huhhhh..!” Keket bete dan pura-pura cemberut yang membuat tawa Papatong semakin keras.
Setelah packing selesai mereka main keluar. Keket menemani Papatong untuk berpamitan dengan Bibi Tikus Tanah, Paman Burung Hantu, Paman Kumbang Ninja dan teman-teman Kupu-Kupu lainnya dan semua hewan yang ada di kebun itu.
“Aku akan sangat merindukan tempat ini dan aku akan kembali lagi kesini,” janji Papatong dalam hati.

Hari itu berlalu sangat cepat bagi Keket. Ingin rasanya ia mengulang hari-hari kemarin #eeaaa..

“Papatong, ayo pulang. Kau harus isitirahat karena besok akan berangkat pagi-pagi sekali” kata Keket
“Iya sebentar..” Papatong masih mengobrol dengan Kaka Nyamuk.

Malam itu Keket sengaja menginap dirumah Papatong, ia ingin mengucapkan salam perpisahan sebelum kawannya itu pergi.

Esok paginya sekitar pukul 03:00 gerombolan Capung sudah berkumpul di kebun. Begitu pula Papatong dan Keket yang menemaninya. Keket takjub baru pertama kali ia melihat ratusan Capung berkumpul.

Ia masih berada di samping Papatong.
“Keket aku pergi ya?” kata Papatong tersenyum cekat.
Keket pura-pura tidak mendengar.
“Hoi..” Papatong menonjok kepala Keket.
Keket menoleh..”Ya..hati-hati. Aku akan menunggumu Papatong” tanya Keket datar. Hari ini sungguh tidak bersemangat.

Tak lama kemudian pemimpin Capung memberi arahan kepada gerombolan Capung sebelum berangkat.
Setelah itu mulailah para Capung dikebun itu terbang dan perlahan-lahan menjauh dari kebun itu.
Diiringi dengan ucapan perpisahan dari hewan-hewan lainnya. Pagi itu sangat ramai tetapi sepi bagi si Keket.

Kupu-kupu alias Keket melihat Papatong yang semakin terbang tinggi dan menjauh.

Hari-hari selanjutnya Keket kurang bersemangat dan sedih. Kadang ketika ia rindu Papatong ia mengobrol dengan Paman Kumbang Ninja, sengaja merebahkan diri dibawah Pohon sambil melihat awan, dan lewat didepan rumah Papatong hanya untuk melihat rumahnya.

Pagi itu Paman Kumbang Ninja menasihati Keket, “Kau tahu nak.. hanya persahabatan sejati karena Allah yang tidak akan luput oleh zaman dan waktu. Tetapi, yang perlu kau ingat persahabatan sejati pasti bisa membuat pelakunya semakin baik dan selalu introspeksi diri. Jika yang kau rasakan adalah kehampaan, kesendirian dan kesepian tak berujung, maka yang perlu kau koreksi adalah hatimu!”

Keket tertegun mendengarnya.
“Huh, aku tidak bisa seperti ini terus!” gumam Keket. “Benar kata Paman, aku harus berubah,” (HAHAHAAA)

Sejak saat itu Keket sang Kupu-kupu berusaha untuk ber”metamorfosis” kembali, bukan semata-mata ia menjadi Kupu-kupu yang cantik, tetapi ia juga harus meningkatkan perbaikan untuk dirinya sendiri. Ia yakin Papatong pun melakukan hal yang sama, dimanapun ia berada.

“Aku yakin kita akan bertemu lagi Papatong,” kata Keket sambil tersenyum dan menatap ke angkasa.

Beberapa bulan kemudian..
ketika kebun itu sudah berganti generasi…ketika bunga Lily semakin mekar dari biasanya, ketika awan di langit sangat cerah dan berarak sejauh mata memandang..ketika tanah di kebun itu semakin subur, ketika Paman Kumbang Ninja sudah mulai sepuh, Paman Burung Hantu sudah mulai banyak istirahat dan digantikan anaknya, ketika Bibi Tikus Tanah pun hanya jadi pengawas karena yang mengajar digantikan Amah Marmut yang ceria.
Dan..ketika Keket alias Kupu-kupu sudah memiliki hidup baru,lihatlah..ia tampak tak sendiri lagi sekarang..ia kini sedang bercengkrama dengan Kupu-kupu jantan yang tampak lebih tua darinya dan..seekor ulat yang lucu!
Kau pasti bisa menebaknya disini. Hahahaa

“Yah, kudengar hari ini akan datang segerombolan Capung kesini?” tanya ulat kecil yang lucu, matanya yang polos menatap Kupu-kupu besar.
Keket dan kupu-kupu tadi tersenyum.
“Kita tunggu saja,” kata Keket yang semakin dewasa XD

Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak titik-titik di angkasa yang jumlahnya sangat banyak. Lama kelamaan titik-titik itu semakin jelas!
“Ibu lihat itu!” teriak ulat kecil tadi.

Keket segera menoleh ke angkasa..matanya berkaca-kaca. Ia sudah sangat lama merindukan datangnya hari ini.
Apakah Papatong ada di antara mereka dan masih ingat padaku?

Suasana dikebun itu menjadi riuh.
“Mereka kembali!” teriak hewan lainnya senang.
“Papatong..adakah dia disini?” tanya Paman Kumbang Ninja.

Keket memperhartikan gerombolan Capung yang semakin dekat dan landing di kebun itu. Ia masih mencarinya, matanya masih mencari Papatong…

“KEKET!” Suara yang sangat tidak asing bagi Keket. Ia segera menoleh ke arah datangnya suara itu.

Matanya berkaca-kaca..aku tidak bermimpi. Itu adalah Papatong..
Papatong tampak terbang rendah menghampiri Keket yang menghampirinya sambil tersenyum haru.
Dan..ia pun tidak sendiri..disebelah kirinya tampak Capung jantan yang lebih tua darinya, dan sebelah kanannya seekor Capung kecil yang imut menempel padanya.

Di Kebun ini, setelah berbulan-bulan lamanya Keket menunggu Papatong akhirnya Papatong datang dan ia menepati janjinya untuk tidak melupakan Keket walau mereka sudah lama berpisah.
Kebun ini pula yang menjadi saksi bisu atas terjalinnya persahabatan yang unik antara seekor Papatong dan Ulat Keket.

TAMAT

Bumi Siliwangi, 12 Juni 2013
01:54 a.m

#Ini adalah cerita folklore pertama yang kubuat. cerita ini aku persembahkan untuk Fafa yang selalu mendengar curhatku entah itu penting ataupun tidak xD hahaha.. jazakillah Fafa..
ohiya dan hari ini 13 Juni adalah hari miladnya 🙂

-diposting jam 02:00 WIB (waktu Indonesia bagian Bandung) oleh Ulat Keket-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s